Kutai Timur – Ancaman krisis air bersih membayangi ribuan pelanggan Perumdam Tirta Tuah Benua (TTB) di Kecamatan Kaliorang dan Sangkulirang. Dari empat titik sumber mata air yang selama ini menjadi pemasok utama air baku di kawasan PT Api-api, kini hanya tersisa satu titik yang masih aktif.
Temuan tersebut terungkap dalam peninjauan lapangan yang dilakukan Pemerintah Kecamatan Kaliorang bersama Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang dan unsur Forkopimcam pada Selasa (9/6/2026). Hasil survei menunjukkan berkurangnya sumber mata air dipicu oleh aktivitas perambahan dan pembukaan kawasan hutan di sekitar daerah tangkapan air.
Dampaknya, debit air yang masuk ke bak penampungan mengalami penurunan drastis. Saat ini, ketersediaan air baku hanya berkisar antara 12 hingga 15 liter per detik, jauh di bawah kebutuhan ideal yang mencapai 40 hingga 50 liter per detik untuk melayani 3.827 pelanggan di dua kecamatan tersebut.
Plt Camat Kaliorang, Pitriani, mengatakan kerusakan kawasan hutan menjadi faktor utama menyusutnya sumber mata air yang selama ini menopang kebutuhan air bersih masyarakat.
“Ketika kami melakukan survei di lapangan, ditemukan beberapa titik kawasan hutan yang telah dibuka atau dirambah. Akibatnya, sumber mata air yang sebelumnya berjumlah empat titik kini hanya tersisa satu titik saja,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut harus segera ditangani karena berpotensi mengganggu pelayanan air bersih bagi masyarakat. Dalam waktu dekat, pemerintah kecamatan bersama pihak terkait akan melakukan upaya penghijauan dan reboisasi di sejumlah kawasan yang mengalami kerusakan.
Meski demikian, Pitriani menilai langkah tersebut hanya menjadi solusi sementara. Untuk jangka panjang, pemerintah mulai mempertimbangkan pemanfaatan sumber air baku alternatif di kawasan Gunung Sakrat guna menjamin keberlanjutan pasokan air bersih.
Ia menegaskan bahwa perlindungan kawasan hutan harus menjadi perhatian bersama agar sumber air yang ada tidak kembali mengalami kerusakan.
“Jangan sampai ketika kita beralih ke Gunung Sakrat, kondisinya justru berakhir sama seperti yang terjadi saat ini. Kelestarian hutan harus dijaga bersama demi keberlangsungan sumber air bagi generasi yang akan datang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang, Takimbudi Asmuri, mengungkapkan pihaknya juga tengah menyiapkan sejumlah alternatif untuk memperkuat pasokan air baku, termasuk memanfaatkan potensi yang tersedia seiring rencana beroperasinya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy pada akhir Juli 2026.
Di akhir peninjauan, Pemerintah Kecamatan Kaliorang meminta dukungan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur serta berbagai pihak terkait untuk bersama-sama menjaga kawasan hulu dan menyelamatkan sumber air baku yang tersisa.
“Kami berharap ada perhatian khusus terhadap kondisi lingkungan di Kaliorang. Penanganan dari hulu sangat penting agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat terus terjamin,” tutup Pitriani.







