
SANGATTA – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur terus memperkuat upaya pencegahan stunting melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), sejalan dengan 50 program unggulan Bupati. Meskipun angka stunting di daerah ini mengalami penurunan, persentasenya masih tergolong tinggi, sementara keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama pelaksanaan program di lapangan.
Anik Saidah, Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB, mengatakan bahwa Genting merupakan langkah strategis dalam menurunkan angka stunting di Kutai Timur. “Program kita itu ada namanya Genting, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting,” ujarnya.
Menurut Anik, angka stunting di Kutai Timur saat ini mencapai 26%, dengan rincian 21% stunting dan 5% termasuk kategori sangat stunting. Kelompok 5% ini memerlukan penanganan khusus karena disertai riwayat penyakit seperti jantung atau diabetes yang diwariskan secara genetik.
Kendala utama dalam pelaksanaan program ini adalah keterbatasan anggaran, terlebih jarak antar kecamatan cukup jauh sehingga memerlukan biaya tambahan untuk mobilisasi dan pemantauan. “Di triwulan ke-4 ini kita juga sudah kehabisan anggaran,” ungkap Anik.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah desa dan kecamatan bersinergi dalam pelaksanaan program. Mereka bekerja sama untuk memastikan kegiatan pencegahan stunting berjalan optimal, mulai dari sosialisasi, pemantauan balita, hingga pendampingan orang tua.
Anik menambahkan, pihak DPPKB telah menyampaikan kendala anggaran kepada DPRD Kabupaten melalui Komisi D. “Pihak DPRD sangat terbuka dan akan membahasnya kembali dengan badan anggaran. Kami berharap penanganan stunting bisa menjadi perhatian khusus pemerintah daerah,” pungkasnya. (ADV)








