SANGATTA – Kesalahan mengambil keputusan dalam beberapa menit pertama dapat memperburuk kebakaran rumah tangga. Untuk mengurangi risiko tersebut, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kutai Timur memberikan simulasi penanganan kebocoran dan kebakaran tabung gas kepada para wali murid TK Negeri Pembina.
Pelatihan praktis itu berlangsung di halaman Kantor Damkarmat Kutim dalam rangkaian outing class. Bunda PAUD Kutim Siti Robiah Ardiansyah dan Kepala Damkarmat Kutim Failu turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Staf Bidang Pencegahan Damkarmat Rusdi mengatakan ketenangan merupakan hal pertama yang harus dijaga ketika terjadi kebocoran atau api pada tabung gas. Ia menjelaskan, regulator dapat dilepas apabila kondisi memungkinkan. Tabung juga dapat dipindahkan ke tempat terbuka, tetapi hanya jika suhunya belum meningkat.
Dalam simulasi, petugas memperagakan pemadaman menggunakan kain atau handuk yang dibasahi untuk menutup sumber api. Cara tersebut dilakukan dengan mengurangi suplai oksigen menuju api. Jika tabung sudah panas, warga justru diminta tidak menyentuh atau memindahkannya dan berkonsentrasi pada pengamanan area.
Ventilasi rumah juga harus dibuka agar gas tidak terkumpul di dalam ruangan. Penumpukan gas dapat meningkatkan risiko terjadinya ledakan. Ketika penanganan mandiri tidak lagi aman, warga dianjurkan segera meminta bantuan petugas pemadam kebakaran.
Failu mengatakan keterampilan sederhana semacam itu penting dimiliki keluarga karena sebagian potensi kebakaran bermula dari aktivitas domestik. Menurut dia, pengetahuan mengenai tindakan awal dapat menjadi pembeda sebelum api menyebar ke bagian rumah lainnya.
Sementara itu, Siti Robiah menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat tambahan bagi orangtua yang mendampingi anak dalam outing class. Selain mengenalkan profesi pemadam kepada siswa, kegiatan juga membekali keluarga dengan pengetahuan keselamatan.
Damkarmat berharap simulasi serupa dapat memperluas literasi tanggap darurat masyarakat. Dengan pengetahuan yang benar dan keputusan yang tepat, warga diharapkan mampu mengurangi risiko kebakaran tanpa menempatkan diri pada bahaya yang lebih besar. (ADV/ProkopimKutim/TP)








