SANGATTA SELATAN – Sejumlah persoalan pembangunan menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kecamatan Sangatta Selatan (Sangsel). Mulai dari penyelesaian batas wilayah desa, peningkatan infrastruktur, hingga pembenahan sistem pendataan masyarakat, seluruhnya dinilai perlu berjalan beriringan agar program lebih tepat sasaran.
Camat Sangsel, Dewi Dohi, mengatakan pihaknya terus melakukan pemetaan terhadap berbagai kebutuhan di setiap desa. Selain mengawal pembangunan jalan yang telah masuk dalam perencanaan, kecamatan juga berupaya mencari solusi atas sengketa batas antara Desa Teluk Singkama dan Desa Kandolo yang sampai sekarang masih berproses. Meski sejumlah jalan prioritas telah masuk dalam rencana pembangunan, realisasinya belum dapat dilakukan seluruhnya pada 2026 karena keterbatasan anggaran.
Selain itu, pembenahan administrasi di tingkat RT menjadi perhatian. Kecamatan berencana berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk memperkuat kelompok Dasawisma yang di sejumlah wilayah tidak aktif. Menurut Dewi, keberadaan Dasawisma penting karena menjadi sumber data yang mendukung perencanaan pembangunan sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat dari lingkup keluarga.
Pembahasan tersebut disampaikan pada pelantikan tiga anggota Pergantian Antar Waktu (PAW) Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sangatta Selatan oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. Dalam kesempatan itu, Dewi mengungkapkan hasil evaluasi yang menunjukkan penggunaan dana RT masih lebih banyak diarahkan pada pembangunan fisik berskala kecil.
Ia menilai pola tersebut perlu diatur kembali melalui petunjuk teknis yang memberi ruang bagi pendanaan kegiatan Dasawisma, Posyandu, serta peningkatan kapasitas kader pembangunan manusia. Menurutnya, pembangunan jalan berkualitas membutuhkan biaya sekitar Rp700 juta hingga Rp800 juta untuk setiap 100 meter, sehingga dana lebih efektif dimanfaatkan secara proporsional dibandingkan hanya difokuskan pada proyek fisik skala kecil.
Melalui penataan tersebut, pemerintah berharap dukungan terhadap 50 program prioritas pemerintah daerah dapat menjangkau hingga tingkat rumah tangga. Dewi menegaskan pihaknya akan terus mengidentifikasi potensi dan persoalan di setiap desa agar solusi yang diambil sesuai kebutuhan masyarakat di tengah keterbatasan fiskal yang dihadapi daerah. (ADV/ProkopimKutim/TP)








