SANGATTA – Menembus pasar ekspor tidak cukup hanya memiliki komoditas unggulan. Kontinuitas produksi, kualitas barang, kapasitas industri, hingga kepastian data menjadi bagian penting yang harus disiapkan Kutai Timur (Kutim) untuk membawa produk ke pasar global.
Kebutuhan tersebut menjadi perhatian pada Rapat Kerja Teknis Hilirisasi Potensi Komoditi dan Peluang Ekspor di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutim. Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, eksportir, BUMD, Dekranasda, serta mitra seperti Ekspor Center.
Dari sisi industri, pemerintah mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) aktif memperbarui data produksi dan lokasi melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) guna membantu pemerintah membaca kapasitas industri sekaligus menentukan dukungan yang dibutuhkan.
Pemetaan juga diarahkan pada komoditas yang berpeluang dikembangkan. Pisang, kakao, aren genjah, dan nanas menjadi potensi yang dapat didorong menuju produk olahan sehingga tidak berhenti pada bahan mentah.
Asisten Ekobang Seskab Kutim, Noviari Noor, mengatakan pengolahan lanjutan dibutuhkan agar manfaat ekonomi tidak hanya berhenti pada tahap produksi.
“Hilirisasi adalah kunci agar nilai ekonomi tetap berputar di daerah dan membuka lapangan kerja,” ujarnya.
Dorongan tersebut mendapat konteks dari perubahan struktur ekonomi Kutim. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi dengan batubara tercatat 1,22 persen, sedangkan tanpa batubara mencapai sekitar 11 persen. Pertanian, perkebunan, industri pengolahan, dan transportasi turut menopang pertumbuhan.
Kondisi itu mendorong pemerintah memperkuat sektor non-tambang melalui hilirisasi dan ekspor. Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan nasional, membangun ekosistem ekspor mandiri dan berdaya saing tinggi, serta menghasilkan langkah konkret dan terukur. Agenda ini mendukung visi Kutim sebagai pusat hilirisasi dalam 20 tahun serta target “Kutai Timur Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing” dalam lima tahun mendatang. (ADV/ProkopimKutim/TP)








