SANGATTA – Usia mereka belum genap satu dekade, tetapi keduanya telah menempuh perjalanan menghafal Al-Qur’an hingga mampu tampil dalam khotmil bil ghoib. Khodijah Ummu Azhariyah dan Faradiba Nahla Alzena menjadi dua santriwati belia yang menunjukkan bahwa pembinaan Al-Qur’an dapat tumbuh kuat sejak masa kanak-kanak.
Khodijah, tujuh tahun, merupakan kelahiran Kutim, 28 Agustus 2018. Santriwati TPA Ulil Albab Griya Dayung di bawah bimbingan Ustazah Risma Mustafa itu tinggal di Perumahan Griya Dayung, Sangatta. Dalam kegiatan tersebut, ia membawakan hafalan Juz 3 dan tercatat sebagai penghatam termuda.
Sementara Faradiba, sembilan tahun, lahir di Sangatta pada 27 Januari 2017 dan menetap di Perumahan Raudlatul Mukhlisin. Santriwati Baitul Qur’an Sangatta pimpinan Ustazah Faaza Almufidah itu tampil dengan hafalan Juz 4. Ketahanan fokus dan kerapian makhraj menjadi bagian yang terlihat dari penampilannya.
Perjalanan keduanya kemudian bertemu dalam Khotmil Qur’an Bil Ghoib di Ruang Panel Kantor DPRD Kutim, Bukit Pelangi, Selasa (18/8/2026). Agenda yang digelar Sekretariat DPRD Kutim bersama Forum Masyarakat Qur’ani (FORMASYQUR) Kutim tersebut menuntaskan 30 juz melalui hafalan dan dirangkaikan dengan Mau’izzah Hasanah.
Ketua FORMASYQUR Kutim, Jamaluddin, menilai kehadiran santri belia dapat menjadi pemantik bagi keluarga Muslim untuk membangun kebiasaan mencintai dan menghafal Al-Qur’an dari rumah.
Pandangan itu diperkuat Habib Alwi Bin Hamid Bin Syihab, Guru Besar Ilmu Hadist Universitas Seiwun, Yaman sekaligus Pengasuh Pesantren Daarul Hadist, Yaman. Ia menekankan bahwa hafalan Al-Qur’an yang disertai akhlak dapat menjadi fondasi penting bagi generasi dan peradaban bangsa.
Di tengah peringatan HUT RI ke-81, kisah Khodijah dan Faradiba pun membawa pesan lain: kemerdekaan bukan hanya diwariskan sebagai sejarah, tetapi juga dapat diisi dengan menyiapkan generasi yang beriman, berakhlak, dan dekat dengan Al-Qur’an. (ADV/ProkopimKutim/TP)








