Kutai Timur – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, menanggapi isu terkait pengembangan studi di Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutai Timur yang disebut belum berjalan optimal akibat keterbatasan anggaran serta minimnya inovasi dalam usulan program yang diajukan.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kutai Timur saat ini masih melakukan penelaahan dan belum melakukan audit menyeluruh terhadap berbagai program yang diusulkan oleh pihak terkait.
“Kita belum audit, ya kan? Kita belum audit. Selama ini kan gitu-gitu saja yang diusulkan. Kalau yang segitu-gitu saja yang diusulkan, diminta hibah dari pemerintah, ya segitu-gitu saja yang kita kasih,” ujar Mahyunadi saat ditemui, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, salah satu perhatian pemerintah daerah adalah kurangnya pengembangan ide dan inovasi dalam proposal yang diajukan untuk mendukung pengembangan institusi tersebut.
“Mereka tidak pernah ada proposal mengembangkan apa-apa,” tambahnya.
Mahyunadi juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada laporan langsung yang diterimanya terkait pengembangan program STIPER di tingkat pemerintah daerah.
“Selama ini ke saya belum ada. Jangan katakan kepada pemerintah ya, saya belum tahu karena ke saya belum ada. Bahkan untuk rehab STIPER juga sampai saat ini masih inisiatif saya,” tegasnya.








