KOMBENG — Ratusan warga Desa Makmur Jaya, Kecamatan Kombeng, berbondong-bondong mendatangi Balai Pertemuan Umum sejak pagi. Mereka datang bukan untuk urusan administratif atau acara seremonial, melainkan menjalani pemeriksaan kesehatan paru menggunakan X-Ray. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Active Case Finding (ACF) yang digelar Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Kesehatan, dengan fokus mendeteksi dini kasus Tuberkulosis (TBC).
Program ACF menjadi salah satu langkah strategis nasional Kementerian Kesehatan RI untuk mempercepat eliminasi TBC di Indonesia. Melalui kegiatan pemeriksaan massal ini, masyarakat yang memiliki riwayat kontak dengan penderita TBC atau mengalami gejala batuk berkepanjangan diimbau untuk memeriksakan diri secara gratis.
“Deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah penularan lebih luas. Infeksi laten harus ditemukan sebelum berkembang menjadi TBC aktif,” ujar Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kutim, Ahsan Zainuddin, yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kutim.
Ahsan menjelaskan, infeksi laten TBC terjadi saat bakteri sudah berada di dalam tubuh tetapi belum menimbulkan gejala. Tanpa penanganan, kondisi itu bisa berubah menjadi penyakit aktif dan mudah menular. “Semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang untuk sembuh dan memutus rantai penularan,” katanya.
Data Dinas Kesehatan Kutim menunjukkan, beberapa wilayah seperti Muara Wahau dan Kombeng masih memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap TBC. Faktor kepadatan permukiman dan jarak layanan kesehatan menjadi tantangan utama dalam penanganan kasus.
Sekretaris Kecamatan Kombeng, Uleh Juk, yang turut hadir dalam kegiatan itu, mengajak masyarakat untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan. “Pemeriksaan ini gratis dan untuk kebaikan bersama. Jangan menunggu gejala berat baru periksa, karena penularannya bisa terjadi di lingkungan rumah,” ujarnya.
Uleh menyampaikan, pihak kecamatan bersama Forkopimcam dan pemerintah desa telah melakukan sosialisasi masif agar kegiatan ACF menjangkau sebanyak mungkin warga. Dukungan teknis dan logistik juga disiapkan agar pemeriksaan berjalan lancar dan hasilnya dapat segera ditindaklanjuti oleh tim medis.
Kegiatan di Desa Makmur Jaya itu dihadiri unsur Forkopimcam, perwakilan BLUD Kombeng, dan tokoh masyarakat. Setiap warga mengikuti alur pemeriksaan mulai dari skrining gejala, wawancara riwayat kesehatan, hingga pemindaian paru dengan X-Ray.
Upaya ini sejalan dengan target nasional eliminasi TBC tahun 2030 yang menargetkan penurunan kasus hingga 90 persen dibandingkan tahun dasar. Berdasarkan Global TB Report 2023, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia setelah India, dengan sekitar 969 ribu kasus baru setiap tahun.
“Kita ingin Kutai Timur menjadi bagian dari daerah yang aktif menemukan kasus dan menekan angka penularan,” tegas Ahsan.
Pemeriksaan gratis ini diharapkan menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa TBC bisa dicegah dan diobati, asalkan ditemukan sejak dini. Program ACF menjadi langkah nyata bahwa pelayanan kesehatan di Kutim terus menjangkau hingga wilayah terpencil.
Menjelang siang, antrean warga belum surut. Mereka datang dengan berbagai latar belakang, membawa satu tujuan: memastikan diri bebas dari penyakit yang masih menjadi tantangan kesehatan global ini. (ADV/ProkopimKutim/T)








