RANTAU PULUNG – Desa Pulung Sari di Kecamatan Rantau Pulung kembali mendapat perhatian penting dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Dalam sebuah agenda yang dinanti warga, Bupati Kutim H Ardiansyah Sulaiman meresmikan tiga fasilitas pelayanan masyarakat sekaligus, yaitu kantor desa, balai desa, dan gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tunas Harapan. Tiga bangunan ini menjadi penanda bahwa pembangunan tidak hanya dilakukan di pusat kabupaten, tetapi menjangkau desa-desa yang jauh dari perkotaan.
Bupati Ardiansyah yang hadir didampingi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) sekaligus Bunda PAUD Kutim, Hj Siti Robiah Ardiansyah Sulaiman meresmikan langsung tiga fasilitas tersebut. Sejumlah pejabat pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta Kepala Desa Pulung Sari, Sarwoto, turut hadir menyaksikan momen tersebut.
Bupati Ardiansyah menuturkan pembangunan fasilitas publik di tingkat desa merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola pemerintahan. Kantor desa dan balai desa bisa digunakan sebagai ruang warga bermusyawarah, merumuskan rencana pembangunan, dan melaksanakan kegiatan kemasyarakatan.
“Semoga keberadaan gedung-gedung ini mampu meningkatkan pelayanan dan menjadi tempat bagi warga untuk membangun desa secara bersama,” ucap Bupati.
Bupati Ardiansyah menambahkan, pembangunan gedung PAUD Tunas Harapan menunjukkan perhatian pemerintah pada pendidikan sejak usia dini. Ia menilai, pendidikan anak usia dini adalah pondasi awal pembentukan karakter dan kesiapan belajar generasi Kutim di masa mendatang.
Di wilayah pedalaman seperti Pulung Sari, pendidikan karakter memiliki peran penting dalam mempersiapkan anak menghadapi tantangan zaman. Anak-anak perlu diperkenalkan pada nilai empati, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, serta rasa percaya diri. Ketika pendidikan karakter tumbuh sejak dini, anak-anak desa berpeluang besar mengembangkan daya saing tanpa meninggalkan identitas budaya lokal yang menjadi kekuatan mereka.
Penguatan karakter ini dapat dilakukan melalui aktivitas bermain, bercerita, dan kerja kelompok yang mengajarkan anak untuk saling menghargai. Sementara itu, pengenalan literasi digital yang sederhana menjadi langkah awal untuk memastikan anak-anak tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi. Dengan perpaduan nilai budaya lokal dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan global, anak-anak dari desa memiliki modal kuat memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Ardiansyah juga menyinggung rendahnya keterlibatan anak-anak Kutim di perguruan tinggi daerah, yang masih berkisar sekitar 30 persen per angkatan. Menurutnya, motivasi belajar harus dibangun sejak tahap awal pendidikan.
Dukungan pendanaan pembangunan desa kini juga semakin besar. Dana untuk setiap RT meningkat menjadi Rp250 juta, sebagai upaya mempercepat pembangunan berbasis kebutuhan warga.
Kepala Desa Pulung Sari, Sarwoto, dan Camat Rantau Pulung, Tristiningsih, sama-sama menekankan pentingnya menjaga dan memanfaatkan fasilitas tersebut agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Tiga bangunan yang kini berdiri menjadi simbol langkah Pulung Sari menuju desa yang tangguh, inklusif, dan berdaya. (ADV/ProkopimKutim/T)








