Kutai Kartanegara – Di pesisir Kutai Kartanegara, ada satu titik yang perlahan tumbuh menjadi ruang singgah baru bagi warga dan wisatawan: Pantai Panrita Lopi. Di balik hamparan pasir dan debur ombaknya, pantai ini menyimpan kisah perjalanan panjang sejak pertama kali dirintis pada tahun 2016.
Pengelola Pantai Panrita Lopi, Fajar, mengingat kembali bagaimana kawasan ini mulai dibangun dari lahan sederhana dengan luas sekitar 80 x 150 meter. Ia menyebut, sebelum Panrita Lopi berkembang, kawasan pesisir ini lebih dulu diramaikan oleh beberapa pantai lain yang kini tinggal menjadi bagian dari sejarah wisata setempat.
“Pantai Panrita Lopi ini pantai ketiga yang berkembang. Dulu sebelum 2015 ada Pantai Jingga, Pantai Kurma, dan Pantai Mutiara. Waktu itu semuanya sempat ramai. Panrita Lopi kami mulai rintis pada 2016,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026).
Nama Panrita Lopi sendiri bukan sekadar penanda lokasi. Dalam bahasa Sulawesi, “panrita” berarti pencipta atau orang yang ahli, sementara “lopi” berarti kapal. Nama ini seakan membawa makna perjalanan, tentang arah dan harapan yang ingin dibangun dari sebuah kawasan pesisir.
Di balik berkembangnya destinasi ini, pengelolaan Pantai Panrita Lopi dijalankan secara sederhana namun terorganisir. Hanya satu pengelola utama yang memimpin operasional, dibantu sekitar 30 orang kru yang menjaga aktivitas wisata tetap berjalan.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menyeberang menggunakan kapal. Meski begitu, akses bukan menjadi penghalang. Justru pengalaman menyeberang menjadi bagian dari cerita perjalanan menuju pantai ini. Pengelola juga menyediakan kapal penyeberangan khusus yang memang difokuskan untuk wisatawan Panrita Lopi.
Sejak awal, Fajar dan timnya merancang Panrita Lopi sebagai ruang wisata terbuka dengan konsep camping ground. Harapannya, pantai ini tidak hanya menjadi tempat singgah singkat, tetapi juga ruang bagi anak muda hingga keluarga untuk menikmati malam di tepi laut.
Namun hingga kini, konsep ini masih berjalan dengan daya tari tersendiri. sehingga pengunjung datang dan menikmati suasana alam apa adanya siang dengan cahaya matahari, malam dengan suara ombak yang lebih sunyi.
“Awalnya kami memang sudah rencanakan camping ground. Dulu kami hanya bisa memakai area sekitar 10 meter dari bibir pantai,” kata Fajar.
Perjalanan Panrita Lopi tidak selalu mulus. Dalam dua tahun terakhir, pengelola merasakan dampak fluktuasi ekonomi yang ikut mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan. Namun di tengah tantangan itu, mereka tetap berupaya menjaga daya tarik pantai dengan menghadirkan hiburan rutin.
Setiap hari, alunan live musik mengisi suasana pantai. Sementara itu, setiap akhir pekan, khususnya malam Minggu, Panrita Lopi berubah menjadi ruang hiburan yang lebih hidup dengan pertunjukan live DJ.
“Bisa kami klaim, Panrita Lopi ini yang pertama menghadirkan live DJ setiap malam Minggu,” ujar Fajar dengan bangga.
Di antara keheningan laut dan riuh musik yang sesekali pecah di malam hari, Pantai Panrita Lopi berdiri sebagai ruang yang terus tumbuh menawarkan dua wajah sekaligus: tenang bagi yang mencari jeda, dan hidup bagi mereka yang mencari cerita.








