SANGATTA – Pemerintah daerah siapkan pola pengelolaan untuk menjaga keberlangsungan Bandara Uyang Lahai di Kecamatan Kombeng. Salah satu langkah yang disepakati adalah melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sementara instansi teknis tetap memberikan pendampingan terhadap operasional fasilitas.
Upaya mempertahankan layanan tersebut tidak lepas dari kebutuhan masyarakat terhadap akses penerbangan di wilayah pedalaman. Uyang Lahai menjadi salah satu bandara yang sudah beroperasi di Kutai Timur (Kutim), sehingga keberadaannya dinilai perlu mendapat perhatian agar konektivitas wilayah tetap terjaga.
Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Kutim, Masrianto Suriansyah, menyebut kondisi fasilitas menjadi catatan dalam pengelolaan bandara. Sejumlah pembenahan diperlukan untuk mendukung keselamatan, kenyamanan, serta keberlanjutan pelayanan penerbangan bagi masyarakat.
Dari sisi pembiayaan, penerbangan perintis juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya operasional. Kenaikan harga Aviation Turbine Fuel (Avtur) berdampak langsung terhadap biaya layanan, ditambah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat yang turut mempengaruhi operasional penerbangan bersubsidi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan karena pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan penuh dalam sektor transportasi udara. Pengelolaan bandara perintis pun tidak dapat sepenuhnya dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Karena kewenangan udara bukan di pemerintah daerah, maka APBD tidak bisa menganggarkan secara langsung untuk pengelolaan bandara perintis,” ujar Masrianto.
Sebagai alternatif, pengelolaan Uyang Lahai akan dilakukan melalui BUMDes berdasarkan kesepakatan pemerintah daerah. Sementara itu, instansi teknis tetap menjalankan monitoring dan pendampingan terhadap pengelolaan serta perbaikan fasilitas.
Kementerian Perhubungan juga terus mengevaluasi bandara perintis setiap tahun. Selain itu, terdapat usulan rute Mahakam Ulu-Samarinda untuk wilayah yang masuk kategori terjauh, terpencil, dan terluar.
Di Kalimantan Timur, perhatian pengembangan turut mencakup Bandara Tanjung Bara dan rencana pembangunan bandara di Bual-bual. Uyang Lahai dan Tanjung Bara menjadi prioritas karena telah beroperasi, sedangkan Bual-bual masih berada pada tahap pengusulan. (ADV/ProkopimKutim/TP)








