SANGATTA – Aroma adat Dayak Kenyah Lepoq Bem terasa kental di Desa Sangkima, Sangatta Selatan, saat Pakenoq Tawai digelar. Tradisi ini tetap relevan sebagai simbol identitas budaya di tengah perubahan zaman dan modernisasi yang cepat.
Momen puncak acara adalah penampilan Tari Laki Demanei, tarian perang yang memadukan estetika dan filosofi hidup. Melalui gerakan dan cerita, tarian ini menyampaikan pesan tentang keberanian, kesetiaan, dan cinta sejati. Kisah sepasang kekasih yang mempertahankan cintanya menjadi metafora untuk nilai-nilai luhur masyarakat Dayak Kenyah.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menegaskan bahwa Pakenoq Tawai bukan sekadar ritual, tetapi sarana mempertahankan identitas budaya. “Tradisi ini adalah bagian dari jati diri kita. Menjaga dan melestarikannya adalah tanggung jawab kolektif,” katanya.
Acara ini juga menampilkan kehadiran tokoh adat, Kepala Desa Sangkima, serta Ketua Kerukunan Dayak Kenyah Lepoq Bem, menunjukkan keterlibatan semua lapisan masyarakat. Mereka berperan sebagai penghubung generasi tua dan muda, menjaga nilai-nilai leluhur tetap hidup.
Pakenoq Tawai tidak hanya sebagai hiburan visual, tetapi juga wahana edukasi publik yang membentuk pemahaman tentang sejarah, budaya, dan kearifan lokal. Tradisi ini memperkuat kebersamaan masyarakat Kutai Timur dan menjadi sarana pemersatu komunitas.
Dengan penyelenggaraan yang konsisten, Pakenoq Tawai memastikan bahwa warisan leluhur, termasuk kisah heroik Tari Laki Demanei, tetap dikenang. Upacara ini menjadi bukti bahwa menjaga budaya bukan hanya soal masa lalu, tapi juga investasi identitas bagi masa depan generasi Kutai Timur. (ADV/ProkopimKutim/T)








