
Sangatta – Upaya pemerataan pendidikan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait infrastruktur dasar. Anggota DPRD Kutim dari Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora), H. Shabaruddin, menyatakan keprihatinannya atas kondisi sarana dan prasarana pendidikan di daerah terpencil yang masih jauh dari memadai.
“APBD kita sudah mengalokasikan 20 persen untuk pendidikan, dan ini Alhamdulillah masih berjalan,” ujarnya. Namun, lanjutnya, persoalan utama bukan hanya soal anggaran, tetapi juga implementasi dan pemerataan pembangunan sarana pendidikan di seluruh wilayah Kutim.
Berdasarkan hasil reses yang dilakukan, Shabaruddin menemukan sejumlah sekolah dalam kondisi memprihatinkan. “Masih banyak sekolah-sekolah yang dinding, atap, bahkan lantainya jebol. Ada juga sekolah yang belum memiliki WC,” ungkap Shabaruddin. Kondisi tersebut, menurutnya, sangat mempengaruhi kenyamanan dan semangat belajar para siswa.
Selain persoalan bangunan, akses menuju sekolah juga menjadi hambatan bagi pemerataan pendidikan. Banyak anak di daerah pedalaman harus menempuh jarak jauh hanya untuk bisa bersekolah. “Ini jelas perlu perhatian serius. Pemerintah harus memastikan setiap anak di Kutim punya kesempatan belajar yang sama,” tegasnya.
Politisi kelahiran 10 Januari 1964 ini menambahkan, perbaikan infrastruktur dasar seperti ruang kelas baru dan fasilitas sanitasi menjadi pondasi penting bagi peningkatan mutu pendidikan. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat dalam mempercepat pemerataan pembangunan sektor pendidikan.
“Perhatian terhadap sekolah-sekolah di pelosok merupakan bentuk komitmen kami untuk pemerataan kualitas pendidikan,” ujar Shabaruddin.
Dengan langkah nyata dan perencanaan yang matang, diharapkan seluruh pelajar Kutim — baik di perkotaan maupun di pedalaman — dapat menikmati fasilitas pendidikan yang layak dan mendukung proses belajar mengajar yang optimal. (ADV)








