SANGATTA – Pada rapat pemantauan inflasi beberapa waktu lalu, Mahyunadi, Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) menjelaskan bahwa keadaan inflasi daerah relatif stabil dengan sejumlah catatan penting. Inflasi Kutim tidak menunjukkan lonjakan atau penurunan signifikan yang mempengaruhi masyarakat.
Jika melihat kondisi inflasi nasional, tercatat sebesar 0.41 persen (month-to-month) dan 3,84 persen (year-on-year). Namun, Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kutim mencapai 0,99 persen atau sekitar 0,5 persen lebih tinggi dibandingkan nasional.
Ketua DPRD Kutim Jimmi menambahkan mengenai kondisi inflasi pasca-Lebaran, khususnya lonjakan harga komoditas seperti cabai, yang walaupun mengalami penurunan tapi masih dinilai tinggi oleh pedagang.
Mahyunadi menyatakan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga, namun terdapat beberapa perhatian khusus seperti pada komoditas telur dengan harga rata-rata Rp 1.927 per butir yang jika dikonversi ke kilogram, akan menunjukkan harga Rp 34.700 per kilogram yang mana lebih tinggi dibandingkan harga acuan nasional yaitu sekitar Rp 30.000 per kilogram. Perbedaan metode perhitungan pasar lokal yang menggunakan butir dengan nasional yang menggunakan satuan kilogram menjadi salah satu kendala.
Juga, kualitas dan harga telur juga dipengaruhi oleh pakan ternak. Ketergantungan terhadap pasokan pakan dari luar daerah menjadi tantangan bagi Kutim.
“Oleh karena itu, upaya menuju kemandirian pangan, termasuk produksi pakan mandiri, dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga,” kata Jimmi.
Terdapat juga kendala yaitu adanya selisih data harga Dinas Perdagangan dengan kondisi pasar seperti pada komoditas cabai merah.
“Perlu dilakukan pemantauan lebih teliti dan cross-check langsung ke lapangan agar data yang disajikan benar-benar mencerminkan kondisi sebenarnya,” ujar Mahyunadi.
Selain isu Inflasi, Mahyunadi juga membahas mengenai rencana penerapan Work From Home (WFH) dan transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan.
Rapat ini menegaskan bahwa meskipun inflasi Kutim masih terkendali, diperlukan langkah strategis untuk menjaga kestabilan tersebut. (ADV/ProkopimKutim/TP)








