KONGBENG – Festival Budaya Kayan UFAH 2025 di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur (Kutim), mencatatkan dampak ekonomi dan pariwisata yang signifikan bagi masyarakat setempat. Perhelatan yang menampilkan sembilan tarian otentik Kayan Umaq Lekan itu menarik perhatian wisatawan, pelaku UMKM, hingga penggiat budaya yang memadati kawasan desa adat selama kegiatan berlangsung.
Festival tahunan ini tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga momentum untuk memperkuat sektor ekonomi lokal. Penjualan kerajinan tangan, kuliner tradisional, serta jasa pendukung pariwisata meningkat seiring tingginya jumlah pengunjung. Sejumlah pelaku UMKM mengaku pendapatan mereka naik selama festival digelar.
Pemerintah daerah menyatakan festival ini menjadi agenda unggulan pariwisata Kutim. Kehadiran wisatawan dari berbagai daerah dinilai menjadi bukti bahwa atraksi budaya Kayan memiliki daya tarik yang kuat. Panggung pertunjukan yang menyajikan tarian-tarian sakral dan cerita leluhur turut memperkuat citra Kutim sebagai destinasi wisata budaya.
Kesembilan tarian yang ditampilkan, seperti Hudoq Aruq, Hudoq Kitaq, Hifan Sau, Hifan Seang, Jat Alat, Hudoq Kap/Kusap Nga-eang, Hudoq Kuhau, Tingeang Urip (Enggang), dan Manuk Inuq, menjadi pusat perhatian pengunjung. Selain nilai estetika, rangkaian tarian tersebut dianggap mampu memberikan pengalaman budaya yang autentik bagi wisatawan.
Tokoh adat Miau Baru menegaskan, festival bukan hanya seremonial, tetapi bagian dari upaya menjaga identitas masyarakat Kayan. Namun, ia juga mengakui bahwa peningkatan jumlah pengunjung memberikan peluang baru bagi kesejahteraan warga. “Budaya ini tetap kami jaga, dan festival ini juga membuka pintu bagi masyarakat untuk mendapatkan manfaat ekonomi,” ujarnya.
Festival Budaya Kayan UFAH 2025 diproyeksikan masuk dalam kalender pariwisata daerah. Pemerintah Kutim menilai potensi pengembangan wisata budaya di Kongbeng cukup besar, mengingat kekayaan tradisi yang masih terjaga dan antusiasme masyarakat adat dalam mengelola kegiatan.
Dengan meningkatnya perputaran ekonomi lokal dan bertambahnya kunjungan wisata, Festival UFAH dinilai menjadi salah satu momentum penting dalam mengembangkan pariwisata berbasis budaya di Kutim. Pemerintah daerah menyebut langkah ini sejalan dengan upaya memajukan perekonomian masyarakat melalui sektor non-tambang. (ADV/ProkopimKutim/T)








