SANGATTA — Penguatan merek dan kemasan didorong sebagai strategi utama peningkatan daya saing UMKM di Kutai Timur. Pesan itu mengemuka dalam Workshop Strategi dan Inovasi Branding yang digelar Komunitas Tangan di Atas (TDA) Kutim yang diikuti 50 pelaku usaha dari berbagai kecamatan.di Ruang Tempudau, Kantor Bupati Kutim, Bukit Pelangi, Sangatta Utara.
Staf Ahli Bupati Bidang Perekonomian, Pembangunan dan Keuangan, **Dr Sulastin**, membuka kegiatan dengan menekankan bahwa kualitas produk lokal sudah kompetitif, namun sering kalah dalam hal penampilan dan identitas merek. Ia menyebut branding bukan lagi tambahan, melainkan kebutuhan di tengah peluang pasar baru seiring perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Narasumber utama, CEO Mebiso Indonesia Hesti Rosa menyampaikan brand tidak hanya terkait logo dan kemasan, tetapi juga narasi, konsistensi visual, serta nilai yang melekat pada produk. Ia menegaskan bahwa pelaku UMKM perlu mendaftarkan merek dagang untuk menghindari pengambilalihan oleh pihak lain saat produk mulai dikenal.
Hesti juga memperkenalkan sistem berbasis kecerdasan buatan yang mempermudah pendaftaran dan pemantauan merek. Dengan demikian, pelaku usaha dapat fokus mengembangkan produk dan pemasaran, sementara perlindungan legal dapat dilakukan lebih praktis dan murah melalui sistem digital.
Ketua TDA Kutim Muhammad Ali menyampaikan bahwa workshop ini menjadi bagian dari upaya besar komunitas dalam mendorong UMKM naik kelas. TDA yang memiliki lebih dari 42.000 anggota di 140 kota bertujuan memperkuat jaringan wirausaha dan meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal.
Ia berharap pelaku UMKM Kutim tidak hanya mampu menjual produk, tetapi juga membangun identitas yang kuat sehingga mampu memasuki pasar yang lebih luas, terutama peluang suplai untuk IKN. “UMKM harus tumbuh bersama. Tidak boleh ada yang tertinggal,” ujarnya. (ADV/ProkopimKutim/T)








