KOMBENG – Festival UFAH 2026 yang berlangsung selama tiga hari sejak Minggu, 9 Agustus 2026, turut menguntungkan para pedagang. Bu Long, yang membuka lapak pakaian adat dan kerajinan Dayak di Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kutai Timur, mengaku penjualan selama festival jauh lebih ramai dibandingkan aktivitas dagang sehari-hari.
Dalam sehari, omzet Bu Long dapat berada pada kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta. Ketika jumlah pembeli meningkat, pendapatannya bisa menyentuh Rp5 juta. Di luar festival, omzet yang diperoleh dari berjualan di rumah biasanya sekitar Rp1 juta per hari, meski jumlahnya tidak selalu sama.
Beragam produk khas Dayak dipajang di lapaknya. Baju Dayak Cawas, topi, kalung, parang baru, rumpi-rumpi, anjat, hingga sejumlah jenis tas menjadi barang yang ditawarkan kepada pengunjung. Produk tersebut sekaligus menjadi cara bagi Bu Long memperkenalkan kerajinan dan perlengkapan bernuansa budaya kepada masyarakat yang datang.
Keterlibatannya sebagai tenan merupakan bagian dari upaya memanfaatkan momentum festival. Pedagang juga dikenai pungutan untuk berjualan selama kegiatan, meski Bu Long menyebut nominalnya relatif kecil. Para pedagang dijadwalkan berpindah ke lokasi di bawah kolong Lamin Aruq setelah hari pertama.
Bagi Bu Long, lonjakan pembeli menunjukkan bahwa kegiatan budaya dapat menciptakan ruang ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Pengunjung tidak hanya datang menyaksikan pertunjukan, tetapi juga menjadi calon konsumen bagi produk yang dibawa para pelaku usaha.
Kehadiran produk lokal di tengah festival juga mempertemukan kepentingan ekonomi dan kebudayaan. Pakaian Dayak, anjat, aksesori, dan kerajinan tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi turut membawa identitas masyarakat setempat. Karena itu, Festival UFAH menjadi ruang perayaan tradisi sekaligus kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar dan menggerakkan ekonomi lokal. (ADV/ProkopimKutim/TP)








