SANDARAN – Suasana meriah dari panggung pertunjukan menutup Pesta Adat Erau “Embuang Panas Pelas” 2026 di Desa Marukangan, Kecamatan Sandaran, Kutai Timur, Minggu, 9 Agustus 2026. Di balik kemeriahan penutupan, pemerintah kecamatan kembali mengingatkan masyarakat agar tradisi yang menjadi bagian dari identitas desa tidak berhenti hanya sebagai seremoni tahunan.
Pelaksana Tugas Camat Sandaran Mulyadi mengatakan adat memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Marukangan. Ia mendorong agar tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tetap dirawat dan dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan setelah rangkaian kegiatan adat, perlombaan, dan kegiatan warga berakhir. Malam penutupan kemudian diramaikan Angle Sahara, Revo Ramon, Puput KDI, serta penampilan DJ.
Sehari sebelumnya, masyarakat mengikuti lomba sumpit dan zumba. Kehadiran dua kegiatan dengan karakter berbeda itu menunjukkan bahwa pesta adat dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk berinteraksi sekaligus mempertahankan unsur budaya lokal.
Erau “Embuang Panas Pelas” dibuka Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman pada Kamis, 6 Agustus 2026, di Balai Adat Desa Marukangan. Tahapan ritual dipimpin para pemangku adat dan dijalankan berdasarkan pakem yang diwariskan antargenerasi.
Dalam kunjungan tersebut, pemerintah daerah juga mengawali pembangunan Balai Adat Desa Marukangan yang baru. Bangunan yang berdampingan dengan Kantor Desa itu diproyeksikan tidak hanya menjadi lokasi prosesi adat, tetapi juga ruang musyawarah dan berbagai aktivitas sosial serta kebudayaan.
Agenda pembukaan turut diisi bazar UMKM, pertunjukan musik, dan perlombaan tradisional serta kegiatan menyambut Hari Kemerdekaan. Ratusan warga menghadiri acara meski cuaca cukup terik. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa pesta adat berfungsi lebih luas sebagai ruang sosial sekaligus wadah untuk mengenalkan kebudayaan kepada generasi muda.
Kepala Desa Marukangan Endi Haryanto berharap penyelenggaraan pesta adat berikutnya dapat berlangsung semakin baik. Tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan kemeriahan acara, melainkan memastikan tradisi tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi setelahnya. (ADV/ProkopimKutim/TP)








