SANGATTA – Besarnya potensi komoditas Kutai Timur (Kutim) belum sepenuhnya tergambar dalam catatan ekonomi daerah. Batu bara dan kelapa sawit menjadi bagian penting aktivitas produksi, namun arus distribusinya masih membuat sebagian komoditas daerah tercatat melalui wilayah lain. Kondisi tersebut dinilai perlu dibenahi agar kontribusi Kutim terhadap perdagangan dan investasi dapat terlihat lebih utuh.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengatakan persoalan itu selama ini cukup mengejutkan ketika data produksi dibandingkan dengan kondisi lapangan.
“Tidak ada tercatat Kutim produksi batu bara katanya. Tidak ada tercatat produksi sawit, karena tercatat di daerah lain. Jadi mereka juga kaget,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata menyangkut distribusi, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana asal komoditas dikenali secara administratif. Ketika barang keluar melalui daerah lain, data produksi, ekspor, dan aktivitas ekonomi Kutim berpotensi tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong penguatan jalur distribusi melalui Pelabuhan Maloy dan Pelabuhan Kenyamukan. Pelabuhan KEK Maloy di Kecamatan Kaliorang, yang telah rampung sejak 2015, diupayakan dapat berfungsi lebih optimal sebagai simpul ekspor langsung komoditas Kutim.
Pembenahan infrastruktur tersebut juga perlu ditopang administrasi perdagangan. Surat Keterangan Asal (SKA) atau Certificate of Origin (COO) menjadi instrumen untuk memastikan identitas daerah asal barang, sekaligus mendukung kebutuhan ekspor, kepabeanan, dan ketertelusuran komoditas.
Kepala DPMPTSP Kutim, Novian Pranata, menyatakan pihaknya siap memperkuat koordinasi dengan OPD terkait dan instansi vertikal. Perbaikan pencatatan investasi serta lalu lintas komoditas diharapkan membuat potensi daerah lebih terbaca dan meningkatkan kepercayaan investor.
Dengan jalur distribusi yang semakin kuat dan asal barang yang terdokumentasi jelas, Kutim diharapkan mampu mempertegas jejak ekonominya. Pembenahan tersebut bukan hanya memperbaiki data, tetapi juga membuka peluang agar pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah lebih mencerminkan besarnya aktivitas produksi Kutim. (ADV/ProkopimKutim/TP)








