SANGATTA – Menyusuri angka Anak Tidak Sekolah (ATS) menjadi tugas khusus Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim). Salah satu langkah konkret dilakukan melalui Pelatihan Teknis Peningkatan Kapasitas Operator Data Pendidikan, yang berlangsung di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara.
Gerakan data dan kepedulian ini menandai arah baru pendidikan di Kutim, meneguhkan komitmen bahwa setiap anak berhak atas masa depan, dan pendidikan merupakan jembatan menuju harapan.
Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kutim Hj. Siti Robiah menegaskan, jumlah ATS yang kian menurun akan membantu Pemda meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa di daerah. pelatihan ini digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim khusus untuk pengelola data pendidikan di tingkat sekolah, lembaga, dan instansi lintas sektor.
Menurutnya, kegiatan ini bertujuan memperkuat kolaborasi dalam menelusuri, verifikasi, dan validasi data anak-anak Kutim yang belum tersentuh layanan pendidikan formal.
“Kita perlu pembaruan data setiap tahun. Kadang anak yang awalnya sekolah bisa jadi ATS karena orang tuanya pindah kerja atau tugas negara, tapi datanya belum diperbarui. Ini yang harus kita antisipasi,” kata dia.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pendidikan Nonformal (PNF) Disdikbud Kutim Heri Purwanto, menilai pemberdayaan operator Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sebagai langkah strategis memperkuat sistem pendataan di tingkat sekolah dasar hingga menengah.
“Operator SD dan SMP punya peran penting dalam memverifikasi data siswa yang drop out atau tidak melanjutkan sekolah. Setelah pelatihan ini, mereka akan langsung turun ke sekolah binaan,” kata dia menjelaskan.
Menurut Heri, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan bagian dari gerakan sosial dan moral. Untuk memastikan tidak ada anak di Kutim yang kehilangan kesempatan belajar. “Ini aksi nyata, bukan kerja satu dinas saja. Semua pihak harus terlibat agar ATS di Kutim bisa benar-benar berkurang,” tegasnya. (ADV/ProkopimKutim/T)








