Kutai Timur – Perlambatan tajam pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) pada 2025 menjadi sinyal kuat rapuhnya struktur ekonomi daerah yang masih bertumpu pada sektor pertambangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Kutim hanya mencapai 1,05 persen, merosot drastis dari 9,82 persen pada tahun sebelumnya, sekaligus menjadi yang terendah di Kalimantan Timur.
Kondisi ini dipicu oleh melemahnya kinerja sektor pertambangan yang justru mengalami kontraksi sebesar minus 0,99 persen. Padahal, sektor tersebut masih mendominasi hingga sekitar 70 persen struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutim.
Kepala Bappeda Kutim, Januar Bayu Irawan, menegaskan bahwa dominasi pertambangan membuat ekonomi daerah sangat rentan terhadap gejolak eksternal, termasuk fluktuasi harga batu bara dan kebijakan pemerintah pusat.
“Ketika pertambangan turun, dampaknya langsung terasa signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, meskipun sektor lain mengalami peningkatan,” jelasnya.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa sektor justru menunjukkan performa positif. Sektor pertanian tumbuh 9,32 persen dengan kontribusi 10,96 persen terhadap PDRB. Industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 19,12 persen dengan kontribusi 5,81 persen, sementara sektor konstruksi tumbuh 7,19 persen dengan kontribusi serupa.
Meski demikian, Bayu mengakui pemerintah daerah tidak memiliki ruang intervensi langsung terhadap sektor pertambangan. Oleh karena itu, strategi pembangunan mulai diarahkan pada penguatan sektor nonpertambangan yang dinilai lebih fleksibel untuk didorong melalui kebijakan daerah.
Sebagai langkah ke depan, Pemkab Kutim tengah menyiapkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027 dengan enam fokus kebijakan. Salah satu prioritas utamanya adalah transformasi struktur ekonomi agar lebih beragam dan tidak lagi bergantung pada sektor ekstraktif.
Selain itu, pemerintah juga mendorong hilirisasi dan penguatan industri lokal agar komoditas daerah memiliki nilai tambah. Upaya peningkatan investasi turut dipacu melalui percepatan akses Pelabuhan Kenyamukan dan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy.
Transformasi ini diharapkan menjadi titik balik bagi perekonomian Kutai Timur agar lebih tahan terhadap tekanan global sekaligus menciptakan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.








