SANGATTA – Setiap pagi, aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kutai Timur (Kutim) mulai menyiapkan makanan bergizi bagi masyarakat. Namun, di balik proses penyediaan tersebut, muncul tantangan lain yang perlu diperhatikan, yaitu memastikan sisa produksi tidak menjadi ancaman bagi kebersihan lingkungan sekitar.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus dikembangkan sebagai program strategis nasional untuk meningkatkan derajat kesehatan generasi muda tidak hanya membutuhkan kesiapan bahan dan tenaga, tetapi juga fasilitas pendukung yang memenuhi standar sanitasi. Kegiatan dapur berskala besar menghasilkan limbah organik maupun domestik dalam jumlah besar pula, sehingga sistem pengolahan limbah menjadi bagian penting sebelum layanan berjalan maksimal.
Ketua DPRD Kutim, Jimmi, menilai keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) harus menjadi bagian dari kesiapan utama SPPG. Ia menegaskan bahwa aturan telah menetapkan SPPG tidak boleh beroperasi tanpa fasilitas pengolahan limbah yang sesuai. Menurutnya, sarana sanitasi juga harus disiapkan sejak tahap pembangunan agar tidak menjadi kendala saat berjalan.
“Jangan sampai niat mulia pemenuhan gizi justru menimbulkan persoalan baru bagi kenyamanan publik,” tambahnya.
Peringatan tersebut berkaca dari penghentian sementara 12 titik SPPG di Kutim akibat kendala teknis. Kondisi itu menjadi evaluasi agar pengelola lebih siap dalam memenuhi aspek administrasi maupun infrastruktur sebelum operasional dilakukan. Evaluasi Badan Gizi Nasional juga menjadi momentum untuk perbaikan.
Selain mencegah pencemaran, pengelolaan limbah juga dinilai dapat memberikan manfaat lain. Limbah organik dari aktivitas dapur berpeluang diolah menjadi pupuk atau produk lain yang memiliki nilai ekonomi.
DPRD Kutim berharap pengelola tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menjalankan tanggung jawab sosial dengan menjaga lingkungan. Pengelolaan limbah harus seimbang dengan pendapatan agar memberi manfaat berkelanjutan. Dengan pengelolaan sanitasi yang baik, program MBG diharapkan mampu menghadirkan manfaat ganda: memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan sekitar. (ADV/ProkopimKutim/TP)








