SANGATTA – Harapan agar mobilitas masyarakat pedalaman Kutai Timur (Kutim) mudah mengemuka seiring rencana peningkatan Bandara Uyang Lahai. Fasilitas tersebut dipandang penting untuk memperlancar akses warga Miau Baru dan kawasan sekitar, termasuk kebutuhan pendidikan, kesehatan, distribusi logistik, serta aktivitas ekonomi.
Bagi dunia usaha, keberadaan bandara memiliki arti strategis. Perwakilan PT Dharma Satya Nusantara (DSN) Group, Yusron, menyatakan perusahaan siap mengambil bagian melalui skema TJSL. Menurutnya, bandara merupakan kebutuhan bersama antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha.
Rencana pembenahan itu tidak berhenti pada dukungan. Pemerintah menempatkan runway sebagai prioritas, dengan rancangan peningkatan sepanjang 800 meter dan lebar 30 meter. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menunjang keselamatan sekaligus membuka peluang pelayanan.
Kebutuhan biaya diperkirakan mencapai Rp44,8 miliar. Angka tersebut masih akan diverifikasi oleh tim teknis serta engineering perusahaan.
Pemkab Kutim selanjutnya akan menyusun pembagian kontribusi dengan mempertimbangkan jumlah dan skala usaha masing-masing perusahaan di Telen, Kombeng, dan Muara Wahau. Pendataan tersebut akan dikoordinasikan Dishub bersama Bappeda dan Dinas Perkebunan agar skema pembiayaan dapat ditetapkan secara proporsional.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Bupati Ardiansyah Sulaiman, untuk mencari sumber pembiayaan pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Pertemuan antara pemerintah dan dunia usaha menjadi titik awal penyusunan kolaborasi tersebut.
Sekretaris Dishub Kutim, Masrianto Suriansyah, menyebut perusahaan memberikan respons positif terhadap rencana peningkatan bandara. Meski demikian, seluruh kontribusi tetap harus mengikuti ketentuan pemerintah dan mekanisme yang berlaku.
Dari sisi masyarakat, Kepala Desa Miau Baru Luis Langet menyambut rencana tersebut sebagai harapan baru. Ia berharap fasilitas bandara yang lebih baik dapat mempercepat akses transportasi sekaligus memperluas peluang usaha dan pengembangan pariwisata di wilayah pedalaman.
Setelah pendataan dan verifikasi teknis selesai, pemerintah akan masuk ke tahap persiapan pekerjaan. Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, pengerjaan fisik runway diperkirakan berlangsung sekitar tiga bulan. (ADV/ProkopimKutim/TP)








