SANGATTA – Tingginya jumlah warga Kutai Timur yang terjerat kasus narkotika menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Bupati Ardiansyah Sulaiman menilai kondisi tersebut harus dijadikan momentum untuk memperkuat gerakan pencegahan yang melibatkan organisasi kepemudaan.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri kegiatan nonton bareng Final Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan KNPI Kutim di Polder Ilham Maulana, Minggu (19/7/2026) malam.
Ardiansyah mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari Badan Narkotika Nasional (BNN), lebih dari 60 persen warga binaan di Lapas Bontang berasal dari Kutai Timur. Mayoritas di antaranya menjalani hukuman akibat penyalahgunaan narkotika.
Menurut dia, fakta tersebut menunjukkan perlunya langkah pencegahan yang lebih intensif, terutama menyasar kalangan muda. Karena itu, KNPI diharapkan tidak hanya aktif dalam kegiatan kepemudaan, tetapi juga menjadi mitra pemerintah dalam mengampanyekan gaya hidup sehat dan bebas narkoba.
“Pesan saya kepada teman-teman KNPI, manfaatkan agenda-agenda yang ada untuk memberikan manfaat positif. Mari kita bersama-sama menjauhkan pemuda dari jeratan narkotika dan obat-obatan terlarang,” kata Ardiansyah.
Ia menambahkan, tantangan pemberantasan narkoba semakin besar karena jaringan peredarannya memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Upaya pencegahan, kata dia, harus dilakukan melalui edukasi yang berkelanjutan di berbagai ruang aktivitas masyarakat.
Sementara itu, data BNN Provinsi Kalimantan Timur mencatat prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat dari 1,7 persen pada 2021 menjadi 2,11 persen pada 2025. Kepala BNN Kaltim Brigjen Pol. Rudi Hartono menyebut kenaikan tersebut sejalan dengan bertambahnya jumlah pengungkapan kasus di wilayah Kalimantan Timur. (ADV/ProkopimKutim/TP)








