
SANGATTA – Meski sudah terbentuk secara resmi, Program Koperasi Merah Putih hingga kini belum juga menunjukkan tanda-tanda aktivitas di lapangan. Kondisi mandeknya program ini memicu perhatian anggota DPRD Kutai Timur (Kutim), Akhmad Sulaeman, yang menilai kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi tantangan terbesar dalam mewujudkan koperasi yang benar-benar berdaya di daerah.
Menurutnya, meski secara administratif program sudah berjalan, pelaksanaan di tingkat daerah masih menghadapi hambatan mendasar. “Nah ini pasti karena kita ini belum berjalan yah, baru sudah dibentuk tapi belum ada kegiatan yang terlaksana. Jadi mungkin tentang hambatannya, tentu saja kalau daerah-daerah perkotaan mungkin itu sudah bisa karena lebih maju,” ujarnya.
Akhmad menegaskan, kesenjangan kualitas SDM antara wilayah perkotaan dan pedesaan akan menjadi ujian nyata bagi keberlangsungan koperasi tersebut. “Akan tetapi di daerah-daerah tertentu, pasti sumber daya manusia. Karena namanya koperasi itu membutuhkan orang-orang yang memiliki, pertama, mungkin jiwa sosial,” katanya.
Lebih lanjut, politisi Partai Demokrat ini menilai bahwa koperasi tidak akan bertahan tanpa nilai-nilai sosial seperti gotong royong dan kepedulian terhadap sesama. Modal sosial ini, kata dia, harus diperkuat melalui pembinaan karakter dan pelatihan manajerial yang seimbang.
“Yang dibutuhkan itu bukan hanya pelatihan manajemen, tapi juga pembentukan mental sosial, karena koperasi itu hidup dari rasa kebersamaan,” tegasnya.
Akhmad optimistis, jika pembinaan dilakukan secara berkelanjutan, koperasi di Kutim bisa tumbuh menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. “Modal sosial kita sebenarnya besar, terutama di pedesaan — hubungan kekeluargaan masih erat, gotong royong masih hidup. Tinggal bagaimana kita mengarahkan itu menjadi kekuatan ekonomi,” pungkas politisi kelahiran 12 Januari 1970 ini. (ADV)








