TELUK PANDAN – Produktivitas padi di Kutai Timur (Kutim) cukup menjanjikan. Rata-rata sawah menghasilkan lebih dari 3,5 ton gabah per hektare setiap musim. Di Kaubun, hasil panen bahkan mendekati 6 ton. Jika ditanam dua kali setahun, produksi satu hektare dapat mencapai sekitar 7 ton.
Skema ini berpotensi secara ekonomis. Dengan asumsi harga beras sekitar Rp12 ribu per kilogram, hasil padi dapat menghasilkan nilai bruto puluhan juta rupiah setahun. Namun, produksi tinggi belum menjamin kepastian pendapatan petani.
Masalah muncul setelah panen. Gabah yang terkumpul tidak selalu langsung terserap pasar. Kondisi ini membuat sawit lebih menarik bagi sebagian petani karena jaringan penjualannya sudah terbentuk dan TBS relatif mudah dipasarkan.
Karena itu, penguatan pertanian Kutim tidak cukup melalui produksi. Pemerintah daerah mendorong pembangunan gudang atau fasilitas Bulog. Hibah lahan telah mendapat dukungan dan menunggu keberlanjutan anggaran. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi tempat penyimpanan sekaligus penyangga harga.
Penguatan hilir diharapkan memberi kepastian bagi petani. Pengolahan beras lokal juga mulai tumbuh. Beras dari Kaubun dan sejumlah desa lain bahkan dipasarkan ke luar daerah.
Ketika pasar diperkuat, produksi perlu diperbesar. Pemkab Kutim menjalankan program cetak sawah rakyat dengan target awal 1.106 hektare. Sekitar 400 hektare telah tercetak hingga akhir tahun lalu, sedangkan hampir 600 hektare kembali dikerjakan tahun ini.
Pekerjaan lanjutan tersebar di Bengalon, Busang, Sandaran, Susuk, Kaubun, hingga Kombeng. Setiap lokasi melalui survei investigasi dan desain. Program didukung APBN serta pendampingan lintas sektor, termasuk TNI.
Ekspansi tetap menghadapi kendala. Sebagian lahan terbentur perizinan dan topografi. DTPHP mengusulkan hampir 700 hektare tambahan untuk tahun mendatang dan usulan tersebut telah diverifikasi.
Di sisi lain, alih fungsi lahan dan daya tarik sawit masih menjadi tantangan. Pemerintah perlu memastikan agar petani tetap menanam. (ADV/ProkopimKutim/TP)








