SANGATTA – Risiko gagal panen merupakan salah satu persoalan yang dapat mengganggu keberlanjutan usaha tani. Banjir, kekeringan, hingga serangan organisme pengganggu tanaman berpotensi membuat petani kehilangan hasil sekaligus modal untuk kembali memproduksi. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyiapkan perlindungan melalui Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Melalui program tersebut, pemerintah menyiapkan tahap awal perlindungan untuk lahan persawahan seluas 1.200 hektare yang berada di sejumlah sentra produksi padi. Dukungan anggaran sebesar Rp500 juta telah dialokasikan dalam APBD 2026.
Persiapan itu dilakukan bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo). Penentuan lahan sasaran juga tidak hanya berdasarkan data administratif, tetapi telah melalui penelusuran dan verifikasi faktual agar cakupan perlindungan sesuai kondisi riil.
Di tengah persiapan tersebut, muncul kabar yang menyebut pelaksanaan AUTP di Kutim tersendat karena persoalan anggaran pada 2025. Informasi itu kemudian mendapat penjelasan dari Dyah Ratnaningrum, kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim. Pemerintah daerah memastikan program tidak terhenti, sebab AUTP memang belum masuk dalam penganggaran pada tahun tersebut dan menegaskan AUTP baru dialokasikan untuk pelaksanaan pada 2026.
Dari sisi pembiayaan, premi AUTP rata-rata berada di kisaran Rp416 ribu per hektare. Sementara nilai perlindungan atau klaim yang tengah disepakati bersama Jasindo dapat mencapai Rp12 juta per hektare.
Skema tersebut diharapkan menjadi penyangga ketika petani mengalami kerugian akibat banjir, kekeringan, maupun organisme pengganggu tanaman. Klaim yang diterima nantinya diharapkan tetap menjadi modal bagi petani untuk kembali menanam pada musim berikutnya.
Dyah menyebut cakupan AUTP masih terbuka untuk diperluas, baik dari sisi luasan lahan maupun dukungan anggaran. Menurutnya, perlindungan tersebut penting untuk memperkuat kesinambungan produksi sekaligus mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan di Kutim. (ADV/ProkopimKutim/TP)








