SANGATTA – Upaya percepatan penanganan stunting di Kutai Timur tak hanya bertumpu pada layanan kesehatan, tetapi juga dimulai dari penyediaan sanitasi yang layak. Pemerintah Kabupaten Kutim menargetkan pembangunan 1.700 septic tank bagi keluarga yang belum memiliki fasilitas pembuangan limbah rumah tangga.
Arahan itu disampaikan Wakil Bupati Kutim Mahyunadi saat memimpin Rapat Koordinasi dan Evaluasi Tim Percepatan Penanggulangan Stunting (TPPS) di Ruang Arau, Kantor Bupati Kutim. Ia menegaskan persoalan sanitasi harus segera diselesaikan karena berkaitan langsung dengan kualitas kesehatan masyarakat.
Mahyunadi meminta Dinas Perkim dan Dinas PU berkolaborasi mempercepat pembangunan septic tank beserta bilik sanitasi. Ia juga menargetkan seluruh kebutuhan tersebut dapat dipenuhi sebelum 2030.
Kepala Bidang Permukiman Dinas Perkim Kutim M Noor memastikan pihaknya siap menjalankan instruksi tersebut. Menurutnya, pembangunan akan dilakukan secara bertahap dengan perencanaan teknis yang disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.
Dalam rapat yang sama, perhatian juga diberikan terhadap fasilitas Posyandu. Saat ini terdapat 319 Posyandu di Kutim, namun 153 di antaranya belum memiliki gedung sendiri. Untuk mengatasi kondisi itu, Dinas PU diminta menyiapkan pembangunan 50 Posyandu baru dengan melibatkan dukungan CSR perusahaan.
Kabid Kesmas Dinkes Kutim Irma Aryani mengatakan sebagian besar desa di Kutim telah memenuhi indikator sanitasi layak. Meski demikian, masih ada sekitar 13 persen kepala keluarga yang belum memiliki septic tank, terutama di kawasan pesisir seperti Pulau Miang. Tahap pertama pembangunan akan difokuskan pada 500 unit agar target sanitasi layak mencapai 97 persen dapat diwujudkan. (ADV/ProkopimKutim/TP)








