
SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menunjukkan keseriusannya dalam mendukung pelaku budaya daerah menghadapi ajang Anugerah Kebudayaan Indonesia tingkat nasional. Melalui Dinas Kebudayaan Kutim, proses rekrutmen dan seleksi calon penerima penghargaan tersebut terus disempurnakan agar mencakup beragam bidang kesenian dan kebudayaan.
Kabid Kebudayaan Kutim, Fadliansyah Budi, mengungkapkan, tahun ini tim seleksi secara khusus memperluas cakupan peserta, tidak hanya dari kalangan seniman pertunjukan, tetapi juga sastrawan dan perajin wastra atau tenun. “Kalau nggak salah juga ada kriteria sastrawan, penulis, penulis tulis, penulis puisi juga masuk. Kalau tidak salah juga,” ujar Fadliansyah saat dikonfirmasi di sela perayaan HUT Kutim.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal positif bagi para pelaku literasi dan penulis di daerah, yang selama ini berperan penting dalam pelestarian bahasa serta sastra daerah namun jarang mendapat ruang apresiasi besar. Selain itu, kategori wastra atau tenun juga mendapat perhatian khusus, mengingat wastra merupakan bagian penting dari kekayaan budaya bendawi Kutim. “Kemudian wastra juga masuk juga, ada kriteria wastra,” tambahnya.
Fadliansyah menekankan, proses penilaian tidak hanya mempertimbangkan keahlian teknis atau karya yang dihasilkan, tetapi juga kontribusi nyata dalam pembinaan dan regenerasi pelaku budaya di lingkungan masing-masing. “Selain dia berwastra, dia juga diteliti atau divisitasi, ternyata dia bisa memberikan pelatihan-pelatihan. Itu salah satu kriteria. Banyak, saya nggak hapal ya, ada banyak,” ujarnya.
Menurutnya, banyaknya aspek yang menjadi bahan penilaian menunjukkan betapa komprehensif dan ketatnya proses seleksi yang dilakukan. Ia memastikan, seluruh tim akan bekerja dengan cermat untuk menilai setiap calon penerima secara mendalam sebelum hasil akhir diumumkan. “Tapi itu nanti, selalu pasti kami akan push satu per satu nanti sebelum kita umumkan di bulan November,” tegasnya.
Langkah ini mencerminkan komitmen Pemkab Kutim untuk tidak hanya sekadar mengirim peserta, tetapi benar-benar mempersiapkan dan mendampingi pelaku budaya terbaik agar mampu bersaing di level nasional. (ADV)








