SANGATTA – Upaya mengakhiri penularan AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan malaria di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai tidak cukup mengandalkan rumah sakit dan puskesmas. Pemerintah desa dipandang memiliki posisi strategis karena berhubungan langsung dengan warga, terutama dalam menemukan kasus lebih awal dan memastikan pasien tidak berhenti menjalani pengobatan.
Hal tersebut mengemuka dalam Forum Kemitraan Penanggulangan Penyakit ATM yang digelar Dinas Kesehatan Kutim. Salah satu agenda forum ialah memperkuat keterlibatan desa dalam upaya pencegahan, penemuan kasus, pengobatan, hingga pemulihan warga.
Triee Susanti Mandasari dari DPMDes Kutim mengatakan keterlibatan pemerintah desa memiliki dasar kebijakan. Permendes Nomor 16 Tahun 2025 membuka ruang penggunaan Dana Desa untuk kegiatan kesehatan masyarakat, termasuk penanggulangan HIV/AIDS, TBC, dan malaria.
Menurut Triee, penanganan TBC menjadi contoh penting. Setelah pasien ditemukan, tantangan berikutnya adalah memastikan terapi dijalani sampai selesai. Desa dapat membantu melalui kader, keluarga, dukungan sosial, akses transportasi ke fasilitas kesehatan, serta pemenuhan gizi sesuai ketentuan.
Pendampingan tersebut diperlukan karena putus pengobatan dapat memperpanjang persoalan kesehatan sekaligus mempertahankan risiko penularan. Setelah pulih, penyintas juga dinilai perlu didukung agar kembali bekerja dan mandiri secara ekonomi.
Peran desa juga dapat diperluas melalui program Desa Siaga. Edukasi perilaku hidup bersih dan sehat, sanitasi, air bersih, pengelolaan lingkungan, serta surveilans berbasis masyarakat dapat menjadi bagian dari pencegahan.
Agar strategi tersebut berkelanjutan, kebutuhan kesehatan harus masuk dalam Musyawarah Desa dan diterjemahkan ke RKPDes serta APBDes. Dengan perencanaan tersebut, penanganan penyakit tidak hanya muncul ketika kasus sudah terjadi.
Bagi pemerintah, desa bukan sekadar penerima anggaran pembangunan, melainkan mitra dalam melindungi warganya. Penguatan peran desa diharapkan mempercepat penemuan kasus, menjaga kepatuhan pengobatan, dan membangun lingkungan yang lebih sehat sebagai bagian dari target eliminasi AIDS, TBC, dan malaria pada 2030. (ADV/ProkopimKutim/TP)








