SANGATTA – Menekan stunting di Kutai Timur (Kutim) membutuhkan kerja yang tidak berjalan sendiri. Pemerintah daerah menggabungkan layanan kesehatan, edukasi, pemantauan pertumbuhan, hingga penguatan koordinasi antar sektor agar pencegahan dapat menjangkau kelompok yang berisiko.
Penguatan itu antara lain dilakukan melalui pendampingan pengisian data aksi konvergensi, pra-musyawarah tematik stunting, serta skrining serentak pemantauan pertumbuhan anak. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menyatukan perencanaan dengan kondisi yang ditemukan di lapangan.
Gambaran perkembangan kemudian dipantau menggunakan e-PPGBM dan SSGI-SKI. Kedua instrumen tersebut membantu pemerintah melihat kondisi gizi masyarakat sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk menentukan intervensi berikutnya.
Di tingkat pelayanan, posyandu dan puskesmas tetap menjadi ujung tombak. Pemberian makanan tambahan, imunisasi, pemeriksaan kesehatan, dan pemantauan pertumbuhan dilakukan secara berkala. Anak dengan masalah gizi juga dapat memperoleh kunjungan rumah, pemeriksaan dokter spesialis, serta suplemen tambahan.
Pencegahan diperluas kepada keluarga melalui edukasi bagi calon pengantin, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pengetahuan mengenai kebutuhan nutrisi dipandang penting agar upaya menjaga tumbuh kembang anak tidak baru dimulai ketika persoalan sudah muncul.
Pada saat yang sama, perubahan perilaku dibangun sejak usia sekolah melalui Aksi Bergizi. Program ini mendorong konsumsi tablet tambah darah, pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik, dan pemahaman kesehatan reproduksi.
Remaja putri menjadi sasaran strategis karena mereka merupakan calon ibu di masa mendatang. Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kutim, Mitha Ferdina, menyebut penguatan langkah tersebut diarahkan untuk menurunkan prevalensi stunting menjadi 19,38 persen pada 2029.
Target itu disusun bertahap dari 26,9 persen pada 2024, menjadi 25,35 persen pada 2025, 23,7 persen pada 2026, 22,16 persen pada 2027, dan 20,72 persen pada 2028. Keseluruhan upaya tersebut menempatkan pencegahan sebagai kerja bersama yang harus berlangsung dari sekarang hingga generasi berikutnya. (ADV/ProkopimKutim/TP)








