SANGATTA – Ketergantungan Kutai Timur (Kutim) terhadap sektor pertambangan membuat aktivitas perdagangan memiliki posisi penting dalam menjaga ekonomi masyarakat. Ketika sektor tambang mengalami kontraksi, perkebunan, dan industri pengolahan hingga perdagangan menjadi sektor yang diharapkan mampu menjaga perputaran ekonomi daerah tetap bergerak.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman menyebut, pertumbuhan ekonomi daerah tanpa memasukkan sektor pertambangan sebenarnya dapat mencapai sekitar 11 persen. Angka tersebut ditopang sejumlah sektor non-tambang, termasuk perdagangan yang aktivitasnya turut bertumpu pada Pasar Induk Sangatta.
Dalam konteks itu, penguatan pedagang menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan ekonomi kerakyatan. Salah satunya melalui Asosiasi Pedagang Pasar Induk Sangatta (APPISTA), organisasi yang telah berdiri sejak 2019 dan kini resmi dikukuhkan oleh Ardiansyah di kawasan Pasar Induk Sangatta.
Ketua DPRD Kutim, Jimmi, dan Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadani, turut hadir dalam prosesi tersebut. Sudarman, Ketua Umum APPISTA menjelaskan, asosiasi tersebut berfungsi sebagai ruang bagi pedagang untuk menyampaikan aspirasi sekaligus penghubung dengan pemerintah. Ia menegaskan, peningkatan kesejahteraan pedagang menjadi salah satu fokus utama organisasi.
Menurut Nora, pedagang Pasar Induk Sangatta memberikan kontribusi signifikan terhadap PAD. Ia menilai kondisi pasar hingga kini tetap kondusif dan bebas dari praktik premanisme. Namun, aktivitas perdagangan tetap menghadapi tekanan akibat perubahan situasi global, termasuk kenaikan harga bahan baku kimia sekitar 30-50 persen yang berdampak pada rantai pasok.
Sementara itu, perlambatan ekonomi Kutim dari 9,82 persen pada 2024 menjadi sekitar 1,05-1,3 persen pada 2025 turut mempengaruhi daya beli masyarakat. Ardiansyah menjelaskan kondisi tersebut dipicu kontraksi sektor pertambangan akibat pengendalian eksplorasi. Pemerintah akan memperkuat sinergi dengan BPR Kutim untuk membantu akses permodalan pedagang. (ADV/ProkopimKutim/TP)








